Kampanye Unik di RW 06 Kaccia: Para Calon RT/RW Pilih Turun ke Lapangan Ketimbang Berebut Suara

MAKASSAR | FAJARINDONESIANEWS.ID-Pemilihan serentak ketua RT dan RW di Kota Makassar tahun ini menghadirkan warna baru, khususnya di RW 06 Kaccia, Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate.

Berbeda dengan metode kampanye para calon pada umumnya, para kandidat RT dan RW di wilayah ini memilih turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi dan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

RW 06 Kaccia sendiri terdiri dari tujuh RT. Pemilihan ketua RT akan digelar pada 3 Desember mendatang, di mana setiap warga berhak memilih dengan mekanisme satu KK satu suara.

Sementara itu, pemilihan ketua RW dijadwalkan berlangsung pada 8 Desember, dengan pemilih berasal dari RT terpilih pada pemilihan sebelumnya.

Gagasan kampanye berbeda ini dipelopori oleh Penjabat (PJ) RW 06, Sailella. Para calon ketua RT dan RW bersama PJ turun meninjau setiap sudut wilayah, mulai dari permukiman, area rawan banjir, hingga fasilitas umum yang memprihatinkan.

Langkah ini sekaligus menjadi cara untuk mengukur kesiapan para calon dalam memahami tugas dan tanggung jawab mereka jika terpilih kelak.

Sailella menjelaskan bahwa pendekatan ini diambil agar para calon benar-benar mengetahui persoalan masyarakat, bukan sekadar membuat janji kampanye tanpa memahami kondisi di lapangan.

Menurutnya, pemimpin di tingkat wilayah tidak cukup hanya populer, tetapi harus paham betul masalah yang harus diatasi.

“Dengan turun langsung seperti ini, para calon bisa melihat sendiri apa saja yang harus dibenahi. Mereka bisa mendengar langsung keluhan warga dan melihat fakta lapangan,” ujar Sailella, Sabtu (29/11/2025)

Lebih jauh, Sailella menegaskan bahwa pemilihan RT dan RW bukanlah ajang untuk saling menjatuhkan atau memperbesar perpecahan. Ia ingin pemilihan di RW 06 menjadi contoh bahwa demokrasi bisa berjalan damai dan penuh kebersamaan.

“Dalam pemilihan ini bukan berarti kita harus bercerai-berai atau saling serang. Di RW 06 Kaccia kita mengedepankan kedewasaan, persatuan, dan semangat membangun bersama,” katanya.

Sementara itu, ia berharap kampanye yang dilakukan secara kolektif ini bisa menjadi tradisi baru di RW 06. Sailella menyebut bahwa pendekatan seperti ini jauh lebih bermanfaat karena mempersiapkan para calon untuk langsung bekerja ketika terpilih.

“Begitu pemilihan selesai, mereka sudah tahu masalah apa yang harus ditangani. Jadi tidak ada lagi waktu terbuang untuk orientasi. Semua sudah jelas sejak awal,” tutupnya.

Salah satu calon ketua RW 06 nomor urut 1, M. Dg. Sija, menilai metode kampanye ini jauh lebih bermanfaat daripada sekadar memburu suara. Ia menegaskan bahwa membangun wilayah lebih penting daripada persaingan antarcalon.

“Turun bersama itu lebih utama. Ini bukan soal menang atau kalah, tetapi bagaimana kita memahami pekerjaan apa yang harus dilakukan ke depan,” katanya.

Sementara itu Calon ketua RW 06 nomor urut 2, Idris Tajannang, juga menyoroti pentingnya kampanye berbasis kebutuhan wilayah. Menurutnya, kampanye seperti ini berbeda dari kampanye calon RT/RW di wilayah lain.

“Di RW 06 kami memilih melihat langsung apa persoalan yang menjadi prioritas. Ini jauh lebih bermanfaat dan realistis,” ungkapnya.

Dari hasil peninjauan lapangan, ada sejumlah persoalan yang menjadi pekerjaan besar bagi ketua RT dan RW terpilih nantinya. Di antaranya:

1. Persoalan sampah yang terus meningkat akibat masih ada warga yang membuang sampah sembarangan.
2. LDrainase buruk, terutama akibat pembangunan perumahan tanpa saluran induk sehingga menimbulkan ancaman banjir.
3. Jembatan penghubung RT 02–03 yang kondisinya sangat membahayakan warga karena papan kayu sudah lapuk.

Idris Tajannang menambahkan bahwa ia memiliki gagasan untuk mengembangkan potensi alam di RW 06 menjadi pusat ekowisata guna mendorong perputaran ekonomi masyarakat.

“Selain menyelesaikan persoalan lingkungan dan pelayanan, kita juga harus melihat peluang ekonomi yang bisa dinikmati warga,” ujarnya.

Semangat kolaboratif dan kampanye berbasis kebutuhan ini menjadi wajah baru dalam pemilihan RT/RW di Makassar. RW 06 Kaccia menunjukkan bahwa kompetisi bisa berjalan sehat, damai, dan tetap mengutamakan kepentingan masyarakat di atas segalanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Category List