TAKALAR | FAJARINDONESIANEWS.ID – Praktik penyalahgunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bersubsidi kembali menjadi sorotan. Sebuah gudang yang berlokasi di Jenggowa Aeng Batu-Batu, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, diduga kuat milik (R) yang menjadi tempat penampungan (pangkalan) solar subsidi secara ilegal.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, aktivitas di gudang tersebut disinyalir melibatkan jaringan distribusi yang rapi untuk menyasar sektor industri dengan harga miring.
Kabar yang beredar menyebutkan bahwa stok solar dari gudang tersebut diduga sering diambil oleh armada milik PT Wisan dan PT Ronald. Kedua perusahaan ini disinyalir menjadi penampung besar untuk mendistribusikan kembali solar tersebut guna kepentingan komersial 24/3/2026.
Ironisnya, praktik ini diduga berjalan mulus karena adanya keterlibatan oknum yang mengatasnamakan diri sebagai wartawan. Oknum tersebut disinyalir berperan sebagai “pasang badan” atau pembeking guna mengamankan aktivitas ilegal ini dari pantauan aparat maupun sorotan publik.
Sumber di lapangan mengungkapkan bahwa pasokan solar tersebut didapat melalui aksi para pelangsir yang bergerak secara masif. Para pelangsir ini kerap beroperasi di SPBU Lama Tanetea (74.921.79), Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa.
Dengan menggunakan kendaraan roda 2, para pelangsir melakukan pengisian berulang kali di SPBU tersebut sebelum akhirnya dibawa menuju gudang penampungan di Aeng Batu-Batu.
”Aktivitas ini sudah sangat meresahkan karena jatah solar untuk petani dan masyarakat kecil justru lari ke industri. Kami berharap pihak berwajib segera turun tangan,” ujar salah satu sumber yang enggan disebutkan identitasnya.
Masyarakat mendesak aparat penegak hukum (APH), khususnya Polres Takalar dan Polres Gowa, untuk segera melakukan investigasi mendalam terkait:
1.Keberadaan gudang di Desa Aeng Batu-Batu.
2.Diduga aliran distribusi solar ke PT Wisan dan PT Ronald.
3.Pengawasan ketat terhadap operasional SPBU 74.921.79 Tanetea.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola gudang maupun perusahaan terkait belum memberikan konfirmasi resmi atas dugaan tersebut.
























